Tampilkan postingan dengan label Akuntansi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akuntansi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 13 Maret 2014
Selasa, 11 Maret 2014
Biaya Overhead Pabrik
Konsep BOP (Biaya Overhead Pabrik)
Semua
biaya produksi selain biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung.
Atau lebih tepatnya semua biaya produksi yang termasuk ke dalam biaya bahan tak
langsung, biaya tenaga kerja tak langsung, dan biaya-biaya produksi lainnya
yang tidak secara mudah di identifikasikan atau dibedakan langsung pada suatu
proses produksi. Sehingga BOP ini sering juga disebut sebagai biaya
produksi tidak
langsung.
Karakteristik BOP
a.
Jumlahnya
tidak proporsional dengan volume produksi
b.
Sulit
ditelusur dan diidentifikasi langsung ke produk atau pesanan
c.
Jumlahnya
tidak material
Tujuan Penyusunan Anggaran BOP
a.
Mengetahui
penggunaan biaya secara efisien
b.
Menentukan
harga pokok
c.
Mengetahui
pengalokasian biaya overhead pabrik sesuai dnegan tempat atau departemen dimana
biaya dibebankan
d.
Sebagai
alat pengawasan BOP
Jenis-jenis BOP
1. Biaya bahan penolong
Adalah
biaya bahan yang digunakan untuk membantu penyelesaian suatu produk yang
jumlahnya relative kecil. Misalnya lem dalam perusahaan percetakan, pernis dan
paku dalam perusahaan mebel.
2. Biaya tenaga kerja tak langsung
Adalah
upah yang dibayarkan kepada karyawan pabrik yang secara fisik tidak berhubungan
dengan proses pembuatan produk. Termasuk dalam kelompok ini antara lain upah
mandor, gaji pegawai administrasi pabrik dll.
3. Biaya penyusutan aktiva tetap pabrik
Adalah
biaya penyusutan atas aktiva tetap yang dipergunakan di pabrik untuk
penyelesaian produk baik secara lansung maupun tidak langsung, misalnya biaya
penyusutan gedung pabrik, mesin-mesin, kendaraan pabrik
4. Biaya reperasi dan pemeliharaan aktiva tetap pabrik
Adalah
biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan dan perawatan mesin, gedung pabrik dan
peralatan pabrik lainnya.
5. Biaya asuransi
Adalah
biaya yang dikeluarkan untuk menanggulangi resiko yang terjadi dalam proses
produksi, biaya asuransi gedung pabrik, biaya asuransi karyawan pabrik.
6. Biaya-biaya yang timbul karena penggunaan jasa
pihak lain
Adalah
biaya-biaya yang timbul karena penggunaan jasa pihak lain guna penyelesaian dan
kelancaran proses produksi, misalnya biaya listrik dan air untuk keperluan
pabrik.
7. Biaya-biaya yang terjadi di departemen pembantu
Dalam
perusahaan yang memiliki departemen pembantu, misalnya departemen bengkel atau
pembangkit tenaga listrik, maka semua biaya yang terjadi di departemen pembantu
tersebut diperlakukan sebagai biaya overhead pabrik (BOP).
Penggolongan BOP
1. Penggolongan BOP
berdasarkan sifatnya:
*
Biaya bahan penolong
*
Biaya reparasi dan pemeliharaan
*
Biaya tenaga kerja tidak langsung
*
Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap
aktiva tetap
*
Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu
*
Biaya overhead pabrik lain yang secara langsung
memerlukan pengeluaran uang tunai
2. Penggolongan BOP menurut
perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume produksi:
*
Biaya overhead pabrik tetap adalah Biaya overhead yang tidak berubah dalam kisar
perubahan volume kegiatan tertentu.
*
Biaya overhead pabrik variable adalah biaya overhead pabrik yang berubah sebanding
dengan perubahan volume kegiatan.
*
Biaya overhead pabrik semivariabel adalah biaya overhead pabrik yang berubah tidak
sebanding dengan perubahan volume kegiatan.
3. Penggolongan BOP menurut
hubungannya dengan departemen:
*
BOP langsung departemen adalah biaya overhead pabrik yang terjadi dalam
departemen tertentu dan manfaatnya hanya dinikmati oleh departemen tersebut.
Contoh: gaji mandor departetemen produksi, biaya depresiasi mesin dan biaya
bahan penolong.
*
BOP tidak langsung departemen adalah biaya overhead pabrik yang manfaatnya dinikmati
oleh lebih dari satu departemen. Contoh: biaya depresiasi, pemeliharaan dan
asuransi gedung pabrik
Contoh Kasus Klasifikasi BOP
Pada Perusahaan Furniture
|
Jenis Biaya
|
BOP Langsung
|
BOP Tidak Langsung
|
||||
|
Bagian Persiapan &
Pembentukan
|
Bagian Dekorsi
|
Bagian Finishing
|
Bagian Listrik
|
Bagian Reparasi
|
Bagian Gedung
|
|
|
Bahan Penolong
|
Anti Jamur
|
Paku, Mur & Baut
|
Cat, Warna & Tiner
|
Solar, Oli, Pelumas
|
Suku cadang
|
Office supplies
|
|
TK Tidak Langsung
|
Kepala bagian supervisor
|
Kepala bagian supervisor
|
Kepala bagian supervisor
|
Kepala bagian supervisor
|
Kepala bagian supervisor
|
Kepala bagian supervisor
|
|
Depresiasi
|
Dep.Gedung
Dep.Mesin
Dep.Peralatan
|
Dep.Gedung
Dep.Mesin
Dep.Peralatan
|
Dep.Gedung
Dep.Mesin
Dep.Peralatan
|
Dep.Gedung
Dep.Mesin
Dep.Peralatan
|
Dep.Gedung
Dep.Mesin
Dep.Peralatan
|
Dep.Gedung
Dep.Mesin
Dep.Peralatan
|
|
Lain-Lain
|
Alat Tulis
Air & Listrik
Pajak
Polis.Asuransi
|
Alat Tulis
Air & Listrik
Pajak
Polis.Asuransi
|
Alat Tulis
Air & Listrik
Pajak
Polis.Asuransi
|
Alat Tulis
Air & Listrik
Pajak
Polis.Asuransi
|
Alat Tulis
Air & Listrik
Pajak
Polis.Asuransi
|
Alat Tulis
Air & Listrik
Pajak
Polis.Asuransi
|
Langkah-Langkah Penentuan
Tarif BOP
- Menyusun Anggaran BOP
Dalam menyusun anggaran BOP harus diperhatikan tingkat
kegiatan (kapasitas) yang akan dipakai sebagai dasar penaksiran BOP. Ada tiga macam kapasitas yang
dapat dipakai sebagai dasara pembuatan anggaran BOP yaitu:
•
Kapasitas
Teoritis
Kapasitas teoritis merupakan kapasitas untuk memproduksi pada
kecepatan penuh tanpa berhenti (100%) dari aktivitas/kapasitas yang ditetapkan. Perusahaan dianggap mampu pada
tingkatan yang maksimun tanpa memperhitungkan adanya hambatan baik yang berasal
dari internal maupun eksternal perusahaan.
•
Kapasitas
Praktis
Kapasitas teoritis dikurangi dengan
kerugian-kerugian waktu yang tidak dapat dihindari karena hambatan-hambatan
intern perusahaan. Penetapan kapasitas praktis ini perlu dilakukan karena
sangat tidak mungkin suatu pabrik dijalankan pada kapasitas teoritis. Dengan
demikian perlu diperhitungkan kelonggaran-kelonggaran waktu dalam penentuan
kapasitas seperti penghentian pabrik yang tidak dapat dihindari karena
kerusakan mesin.
•
Kapasitas
Normal
Adalah
kemampuan perusahaan untuk memproduksi dan menjual produknya dalam jangka
panjang. Jika dalam penentuan kapasitas
praktis
hanya diperhitungkan kelonggaran-kelonggaran waktu akibat faktor-faktor intern
perusahaan, maka dalam penentuan kapasitas normal diperhitungkan pula
kecenderungan penjualan dalam jangka panjang.
•
Kapasitas
Sesungguhnya
Kapasitas sesungguhnya yang
diperkirakan akan dapat dicapai dalam tahun yang akan datang. Untuk kelemahanya
yaitu akan berakibat terjadinya perbedaan yang besar pada tarif Biaya Overhead
Pabrik dari tahun ke tahun dan sebagai akibat perubahan yang besar pada tarif
Biaya Overhead Pabrik dari periode
ke
periode.
- Memilih Dasar Pembebanan BOP Kepada Produk
Ada
berbagai faktor yang
harus dipertimbangkan dalam memilih pembebanan BOP:
a.
Harus
diperhatikan jenis biaya overhead pabrik yang dominan jumlahnya dalam
departemen produksi
b.
Harus
diperhatikan sifat-sifat biaya overhead pabrik yang dominan tersebut dan eratnya
hubungan sifat-sifat tersebut dengan dasar pembebanan yang akan dipakai.
Selain itu ada berbagai macam dasar yang dapat dipakai
untuk membebankan BOP kepada
produk diantaranya :
Metode
ini merupakan metode yang paling sederhana dan langsung membebankan BOP kepada
produk. Beban BOP untuk setiap produk dihitung dengan formula berikut:
Tarif
BOP Persatuan = Taksiran BOP : Taksiran jumlah satuan produk × 100%
Metode ini cocok digunakan untuk perusahaan yang hanya
memproduksi satu jenis produk. Jika perusahaan menghasilkan lebih dari macam
produk yang serupa dan berhubungan erat satu dengan yang lain, maka pembebanan
dengan dasar tertimbang atau dasar nilai.
Jika
BOP yang dominan bervariasi dengan nilai bahan mentah (misal biaya asuransi
bahan baku), maka dasar yang dipakai untuk membebankannya kepada produk adalah
biaya bahan bakuyang dipakai. Formula perhitungan tarif BOP adalah sebagai
berikut:
Tarif
BOP Persatuan = Taksiran BOP : Taksiran biaya bahan mentah yang dipakai × 100%
Jika
sebagian besar elemen BOP mempunyai hubungan yang erat dengan jumlah upah TKL
(contoh pajak penghasilan atas upah karyawan yang ditanggung perusahaan), maka
dasar yang dipakai untuk membebankan adalah biaya TKL.
Formula
perhitungan tarif BOP adalah sebagai berikut:
Tarif
BOP persatuan = Taksiran BOP : Taksiran
biaya tenaga kerja langsung × 100%
Oleh
karena ada keterkaitan yang sangat erat antara biaya TKL dengan jumlah jam
kerja langsung, maka BOP dibebankan atas dasar jam tenaga kerja langsung.
Formula
perhitungan tarif BOP adalah sebagai berikut:
Tarif
BOP Persatuan = Taksiran BOP : Taksiran Jam tenaga kerja × 100%
•
Jam mesin
Apabila
BOP bervariasi dengan waktu penggunaan mesin (contoh bahan bakar atau listrik
dipakai untuk menjalankan mesin), maka dasar yang dipakai untuk membebankannya
adalah jam mesin. Formula perhitungan tarif BOP adalah sebagai berikut:
Tarif
BOP Persatuan = Taksiran BOP : Taksiran Jam kerja mesin × 100%
- Menghitung Tarif BOP
Setelah anggaran BOP selesai disusun dan
ditentukan besar satuan kegiatan, maka langkah terakhir adalah menghitung tarif
BOP dengan rumus sebagai berikut:
Formula:
Jumlah
BOP dianggarkan = Tarif BOP × Tingkat kegiatan yang direncanakan
Minggu, 20 Oktober 2013
Menyusun Neraca Saldo (Trial Balance)
Setelah
menyusun buku besar, langkah selanjutnya pada akhir periode akuntansi,
umumnya tanggal 31 Desember perusahaan menyusun neraca saldo dengan cara
memindahkan nilai saldo akhir tiap akun pada buku besar.
Neraca saldo
adalah daftar yang mencatat secara sistematis dari saldo- saldo akun
berdasarkan kelompok akun. Tujuan penyusunan Neraca saldo adalah menguji
apakah transaksi yang telah dilakukan perusahaan sudah dibukukan ke
tiap akun dengan benar.
Adapun langkah- langkah menyusun neraca saldo yaitu:
- Mempersiapkan kolom neraca saldo, dengan format seperti contoh di bawah:
- Tuliskan nomor akun pada kolom nomor, nama akun pada nama akun
- Selanjutnya masukkan saldo debit dari akun yang didapat dari saldo akhir buku besar debit ke kolom debit dan saldo kredit ke kolom kredit.
- Setelah semua saldo dipindahkan dengan benar selanjutnya jumlahkan masing- masing nominal di kolom debit dan kolom kredit. Jumlah akhir tersebut harus seimbang. Keseimbangan jumlah ini menjadi indikasi bahwa pencatatan yang dilakukan sudah benar.
Format Neraca Saldo:
Keterangan:
- Kolom Nomor digunakan untuk mencatat nomor- nomor rekening/akun buku besar
- Kolom Nama Akun, digunakan untuk mencatat nama- nama akun berdasarkan buku besar
- Kolom debit dan kredit masing- masing digunakan untuk mencatat saldo tiap rekening
Berikut ini saya berikan contoh cara memindahkan saldo dari buku besar ke neraca saldo .
Berdasarkan
contoh di atas di buku besar Kas perusahaan Zhafira terdapat saldo di
debit sebesar Rp. 16.350.000,-. Jumlah inilah yang kemudian dimasukkan
ke sisi debit neraca saldo akun kas.Semoga Bermanfaat!!
Jurnal Umum
JURNAL UMUM
LATIHANSiklus Akuntansi Jasa
JURNAL UMUM
A. JURNAL (Journal) adalah catatan akuntansi permanen yang pertama (book of original entry), yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan secara kronologis dengan menyebutkan akun yang di Debet maupun yang di Kredit.
Fungsi jurnal meliputi :
1. Fungsi historis, yaitu jurnal merupakan kegiatan mencatat semua transaksi keuangan secara kronologis atau berurutan sesuai dengan tanggal terjadinya.
2. Fungsi mencatat, yaitu jurnal merupakan pencatatan yang lengkap terperinci, artinya semua transaksi dengan sumbernya harus dicatat tanpa ada yang ketinggalan.
3. Fungsi analisis, yaitu jurnal menganalisis transaksi untuk menentukan akun yang harus di Debet maaupun yang di Kredit.
4. Fungsi instruktif, yaitu jurnal merupakan perintah memposting dalam buku besar baik yang di Debet maupun yang di Kredit sesuai hasil analisis dalam jurnal.
5. Fungsi informatif, yaitu jurnal memberikan keterangan kegiatan perusahaan secara jelas.
Secara umum jurnal terdiri dari jurnal umum dan jurnal khusus. Pada semester ini kita akan membahas jurnal umum saja. Bentuk jurnal umum adalah :
Jurnal Umum
Halaman : (1)
| Tanggal | No Bukti | Nama Akun dan Keterangan | Ref | Debet | Kredit |
| (2) | (3) | (4) | (5) | (6) | (7) |
(1) Diisi dengan nomor halaman jurnal secara berurutan.
(2) Diisi dengan tanggal terjadinya transaksi secara berurutan dengan kronologis terjadinya transaksi.
(3) Diisi nomor surat bukti transaksi.
(4) Diisi dengan nama akun yang di debet ditulis terlebih dahulu, baris bawahnya ditulis akun yang di kredit dan ditulis menjorok ke sebelah kanan. Selanjutnya baris bawahnya ditulis penjelasan ringkas transaksi yang bersangkutan.
(5) Diisi nomor kode akun, tetapi ingat nomor kode akun ini diisi hanya jika akan diposting ke buku besar.
(6) Dan (7) diisi dengan jumlah rupiah dari akun yang di debet maupun yang di kredit.
Sebelum bukti transaksi keuangan dicatat dalam jurnal, terlebih dahulu dilakukan analisis untuk menentukan pengaruhnya terhadap akun-akun di perusahaan. Pola pencatatan transaksi dalam jurnal diatur dalam sebuah mekanisme Debet dan Kredit. Pengertian Debet dalam Akuntansi menunjukan sisi sebelah kiri dan Kredit menunjukan sebelah kanan. Mekanisme Debet dan Kredit terlihat dalam tabel sebagai berikut :
Mekanisme Debet dan Kredit
| No | Jenis Akun | Keterangan | ||
| Bertambah | Berkurang | |||
| 1 | HARTA | DEBET | KREDIT | Harta jika bertambah dicatat di Debet Harta jika berkurang dicatat di Kredit |
| 2 | UTANG | KREDIT | DEBET | Utang jika bertambah dicatat di Kredit Utang jika berkurang dicatat di Debet |
| 3 | MODAL | KREDIT | DEBET | Modal jika bertambah dicatat di Kredit Modal jika berkurang dicatat di Debet |
| 4 | PENDAPATAN | KREDIT | DEBET | Pendapatan jika bertambah dicatat di Kredit Pendapatan jika berkurang dicatat di Debet |
| 5 | BEBAN | DEBET | KREDIT | Beban jika bertambah dicatat di Debet Beban jika berkurang dicatat di Kredit |
Transaksi 1 : 1 MEI
| Tn. Ali menyetor uang pribadi ke dalam perusahaan “ALI TAILOR” sebagai modal awal usaha jahit sebesar Rp 4.000.000,- |
Harta perusahaan dalam bentuk Kas bertambah Rp 4.000.000,- (Debet)
Modal Tn. Ali Bertambah Rp 4.000.000,- (Kredit)
Jurnal :
| Tanggal | Nama Akun dan Keterangan | Ref | Debet | Kredit | |
| Mei | 1 | KasModal Tn. Ali (Setoran modal awal Tn. Ali) | Rp4.000.000- | -Rp4.000.000 | |
| Disewa sebuah ruko untuk usaha jahit dengan membayar Rp 1.200.000,- untuk 6 bulan. | Disewa sebuah ruko untuk usaha jahit dengan membayar Rp 1.200.000,- untuk 6 bulan. |
Harta perusahaan dalam bentuk Sewa Dibayar Dimuka bertambah Rp 1.200.000,- (Debet)
Harta perusahaan dalam bentuk Kas berkurang Rp 1.200.000,- (Kredit)
Jurnal :
| Tanggal | Nama Akun dan Keterangan | Ref | Debet | Kredit | |
| Mei | 2 | Sewa Dibayar DimukaKas (Pembayaran sewa ruko) | Rp 1.200.000- | -Rp 1.200.000 | |
| Dibeli tunai perlengkapan jahit dari Toko Jaya dengan harga Rp 800.000,- |
Harta perusahaan dalam bentuk Perlengkapan Jahit bertambah Rp 800.000,- (Debet)
Harta perusahaan dalam bentuk Kas berkurang Rp 800.000,- (Kredit)
Jurnal :
| Tanggal | Nama Akun dan Keterangan | Ref | Debet | Kredit | |
| Mei | 4 | Perlengkapan JahitKas (Pembelian tunai perlengkapan dari Toko Jaya) | Rp 800.000- | -Rp 800.000 | |
| Tanggal | Nama Akun dan Keterangan | Ref | Debet | Kredit | |||||
| Mei | 10 | KasPerlengkapan Jahit (Pembelian tunai perlengkapan dari Toko Jaya) | Rp 300.000- | -Rp 300.000 | |||||
| Telah diselesaikan jahitan pakaian langganan seharga Rp 300.000 dan langsung diterima pembayarannya.Analisis transaksi :
Harta perusahaan dalam bentuk Kas bertambah Rp 300.000,- (Debet) Pendapatan perusahaan bertambah Rp 300.000,- (Kredit) |
Telah diselesaikan jahitan pakaian langganan seharga Rp 300.000 dan langsung diterima pembayarannya. | ||||||||
Mei
12
Dibeli peralatan jahit dari Toko Sekawan seharga Rp 1.500.000,- baru dibayar Rp500.000,-
Analisis transaksi :
Harta perusahaan dalam bentuk Peralatan Jahit bertambah Rp 1.500.000,- (Debet)
Harta perusahaan dalam bentuk Kas berkurang Rp 500.000,- (Kredit)
Utang perusahaan (ke Toko Sekawan) bertambah Rp 1.000.000,- (Kredit)
| Tanggal | Nama Akun dan Keterangan | Ref | Debet | Kredit | |
| Mei | 12 | Peralatan JahitKas
Utang Usaha (pembelian peraltan sebagian tunai ke Toko Sekawan) |
Rp 1.500.000- - | -Rp 500.000 Rp 1.000.000 | |
| Telah diselesaikan jahitan pakaian Tn. Ahmad seharga Rp 1.700.000 sudah dikirimkan tagihannya. |
Harta perusahaan dalam bentuk Piutang Usaha bertambah Rp 1.700.000,- (Debet)
Pendapatan perusahaan bertambah Rp 1.700.000,- (Kredit)
Jurnal :
| Tanggal | Nama Akun dan Keterangan | Ref | Debet | Kredit | |
| Mei | 18 | Piutang UsahaPendapatan jahit (Pendapatan jahit dalam tagihan ke Tn. Ahmad) | Rp 1.700.000- | -Rp 1.700.000 | |
| Dibayar ke Toko Sekawan Rp 800.000,- atas pembelian peralatan jahit tanggal 12 Mei. |
Harta perusahaan dalam bentuk Kas berkurang Rp 800.000,- (Kredit)
Utang perusahaan (ke Toko Sekawan) berkurang Rp 800.000,- (Debet)
Jurnal :
| Tanggal | Nama Akun dan Keterangan | Ref | Debet | Kredit | |
| Mei | 19 | Utang UsahaKas (Pembayaran Utang ke Toko Sekawan) | Rp 800.000- | -Rp 800.000 | |
| Dibayar gaji pegawai untuk 2 minggu kerja Rp 200.000,- |
Harta perusahaan dalam bentuk Kas berkurang Rp 200.000,- (Kredit)
Beban Gaji bertambah Rp 200.000,- (Debet)
Jurnal :
| Tanggal | Nama Akun dan Keterangan | Ref | Debet | Kredit | |
| Mei | 20 | Beban GajiKas (Pembayaran gaji pegawai) | Rp 200.000- | -Rp 200.000 | |
| Diterima pinjaman dari BPD JABAR Rp 2.000.000,- dikenakan biaya administrasi Rp250.000. |
| Tanggal | Nama Akun dan Keterangan | Ref | Debet | Kredit | |
| Mei | 21 | KasBeban Administrasi
Utang Bank (Penerimaan pinjaman dari Bank dipotong bunga) |
Rp 1.750.000Rp 250.000 - | – Rp 2.000.000 | |
| Tn. Ali mengambil uang perusahaan untuk keperluan pribadi Rp 400.000,- |
Harta perusahaan dalam bentuk Kas berkurang Rp 400.000,- (Kredit)
Pengambilan pemilik (Prive) bertambah Rp 400.000,- (Debet)
Jurnal :
| Tanggal | Nama Akun dan Keterangan | Ref | Debet | Kredit | |
| Mei | 22 | PriveKas (Prive Tn. Ali) | Rp 400.000- | -Rp 400.000 | |
| Diterima pembayaran dari Tn. Ahmad Rp 1.400.000,- atas penyelesaian jahitan tanggal 18 Mei. |
Harta perusahaan dalam bentuk Kas bertambah Rp 1.400.000,- (Debet)
Harta perusahaan dalam bentuk Piutang (ke Tn. Ahmad) berkurang Rp 1.400.000,- (Kredit)
Jurnal :
| Tanggal | Nama Akun dan Keterangan | Ref | Debet | Kredit | |
| Mei | 25 | KasPiutang Usaha (Penerimaan pembayaran tagihan jahitan Tn Ahmad) | Rp1.400.000- | -Rp1.400.000 | |
| Dibeli secara kredit perlengkapan jahit dari Toko Jaya dengan harga Rp 200.000,- |
Harta perusahaan dalam bentuk Perlengkapan bertambah Rp 200.000,- (Debet)
Utang perusahaan (ke Toko Jaya) bertambah Rp 200.000,- (Kredit)
Jurnal :
| Tanggal | Nama Akun dan Keterangan | Ref | Debet | Kredit | ||
| Mei | 30 | Perlengkapan JahitUtang Usaha (Pembelian perlengkapan secara kredit ke Toko Jaya) | Rp 200.000- | -Rp 200.000 | ||
| Dibayar cicilan ke BPD JABAR Rp 230.000,- termasuk bunga pinjaman Rp 30.000,- |
Harta perusahaan dalam bentuk Kas berkurang Rp 230.000,- (Kredit)
Beban Bunga bertambah Rp 30.000,- (Debet)
Utang perusahaan ke Bank berkurang Rp 200.000,- (Debet)
Jurnal :
| Tanggal | Nama Akun dan Keterangan | Ref | Debet | Kredit | |
| Mei | 31 | Utang BankBeban Bunga
Kas (Pembayaran cicilan ke BPD ditambah bunganya) |
Rp 200.000Rp 30.000 - | – Rp 230.000 | |
“ALI TAILOR”
JURNAL UMUM
Bulan Mei 2006
Halaman : 01
| Tanggal | Nama Akun | Ref | Debet | Kredit | ||
| Mei | 1 | KasModal Tn. Ali (Setoran modal awal Tn. Ali) | Rp 4.000.000- | -Rp4.000.000 | ||
| 2 | Sewa Dibayar DimukaKas (Pembayaran sewa ruko) | Rp 1.200.000- | -Rp 1.200.000 | |||
| 4 | Perlengkapan JahitKas (Pembelian tunai perlengkapan dari Toko Jaya) | Rp 800.000- | -Rp 800.000 | |||
| 10 | KasPendapatan jahit (Pendapatan jahit tunai) | Rp 300.000- | -Rp 300.000 | |||
| 12 | Peralatan JahitKas
Utang Usaha (Pembelian peralatan sebagian tunai ke Toko Sekawan) |
Rp 1.500.000- - | -Rp 500.000 Rp 1.000.000 | |||
| 18 | Piutang UsahaPendapatan jahit (Pendapatan jahit dalam tagihan ke Tn. Ahmad) | Rp 1.700.000- | -Rp 1.700.000 | |||
| 19 | Utang UsahaKas (Pembayaran Utang ke Toko Sekawan) | Rp 800.000- | -Rp 800.000 | |||
| 20 | Beban GajiKas (Pembayaran gaji pegawai) | Rp 200.000- | -Rp 200.000 | |||
| 21 | KasBeban Administrasi
Utang Bank (Penerimaan pinjaman dari Bank dipotong bunga) |
Rp 1.750.000Rp 250.000 - | – Rp 2.000.000 | |||
| 22 | PriveKas (Prive Tn. Ali) | Rp 400.000- | -Rp 400.000 | |||
| 25 | KasPiutang Usaha (Penerimaan pembayaran tagihan jahitan Tn Ahmad) | Rp 1.400.000- | -Rp 1.400.000 | |||
| 30 | Perlengkapan JahitUtang Usaha (Pembelian perlengkapan secara kredit ke Toko Jaya) | Rp 200.000- | -Rp 200.000 | |||
| 31 | Utang BankBeban Bunga
Kas (Pembayaran cicilan ke BPD ditambah bunganya) |
Rp 200.000Rp 30.000 - | – Rp 230.000 | |||














